Jumat, 15 November 2013

Prosa : Teh Celup Cinta

Seperti teh celup! Menyeruak lantas pergi! Merapi dan Merbabu pun terhenyak menyaksikan sandiwara ini. Bercengkerama mentertawakan aku yang terjatuh dalam jebakannya. Sekejap tetapi cukup menyakitkan! Engkau tahu tentu lebih tahu, lebih paham dan pastilah ada hikmah di balik semua ini.
Seulas senyumku masih akan tetap ada. Tidak berkurang kuantitasnya tidak juga menguap kadar manisnya. Karena hanya dengan senyum inilah aku bisa meyakinkan diriku bahwa aku masih menang atas dirinya! Meski harus merasakan sakit. Tetapi sakit ini akan aku kenang, karena sakit inilah satu-satunya yang akan mengingatkanku agar hati ini tidak akan melambung terbuai oleh buih-buihnya.
Meskipun demikian, aku tetap tidak ingin memantik atau menggenggam bara api. Biarlah rintik hujan sore ini membantuku menghanyutkan sakit ini. Biarlah aku tunggu terik sang surya memancarkan radiasinya. Meski pun aku sendiri tidak pernah tahu berapa lama aku harus menunggu. Tetapi aku yakin bias-bias pelangi akan terlukis dengan indahnya di kanvas biru berbaur putih yang menjulang tinggi tak teraih olehku.

Terimakasih dariku tetaplah pantas untuk kau terima. Meski mungkin tak akan terdengar sampai telingamu. Tetapi ucapan ini tulus. Terimakasih telah mengajariku bagaimana caranya tertawa setelah aku hampir lupa caranya sekaligus terimakasih juga kau telah mengingatkanku bagaimana caranya menangis setelah aku lupa caranya dan aku benci menyadari ada bening di ujung mataku.
(unik)

Kunjungi karya kami yang lain di komunitaspujangga(dot)blogspot(dot)com :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar