Sabtu, 05 Oktober 2013

Persiapan Indonesia dalam Menghadapi AEC (Asean Economic Community)

ASEAN Economic Community (AEC) akan menjadi tujuan dari integrasi ekonomi regional pada tahun 2015. “Proker” yang sudah dibahas sejak tahun 2009 lalu itu tinggal sebentar lagi lho ya. Tujuan idealnya tercetus sejak tahun 1997 yang tercermin dalam Visi ASEAN 2020 yaitu mewujudkan kawasan yang stabil, makmur dan berdaya saing tinggi dengan pembangunan ekonomi yang merata yang ditandai dengan penurunan tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial ekonomi.


Namun apakah cita-cita AEC tersebut dapat dengan mulusnya diterima masyarakat ? dengan adanya AEC ini mau tidak mau, suka tidak suka para pengusaha (terutama UMKM) pada 2015 harus  ikut  “bertarung” menghadapi liberalisasi dan integrasi ekonomi Asean. Padahal sebagian besar pengusaha UMKM belum mengetahui adanya AEC.  Jika masyarakat pengusaha (menengah-kecil) saja tidak mengetahui akan ada economic border less country dalam bungkus AEC, apalagi masyarakat biasa yang nota bene nantinya bakal menjadi obyek pasar terbuka Asean. Sudahkah pemerintah memperhatikan masalah ini. Sementara 2015 sudah semakin dekat. Belum lagi pada 2014 masyarakat akan terkonsentrasi pada hiruk-pikuk pemilihan umum legislatif dilanjutkan pemilu presiden. Kesepakatan pelaksanaan AEC ini diikuti oleh 10 negara anggota Asean yang memiliki total penduduk 600 juta jiwa. Sekitar 43% jumlah penduduk itu berada di Indonesia. Artinya, pelaksanaan AEC ini sebenarnya akan menempatkan Indonesia sebagai pasar utama baik untuk arus barang maupun arus investasi. Dalam konteks arus barang, sudahkan barang-barang lokal nasional mampu bersaing melawan produk-produk unggulan dari Thailand, Vietnam, Filiphina, Brunei darussalam, dan Malaysia, baik dari sisi harga maupun kualitas.

Tentu saja selalu ada keuntungan yang didapat dengan adanya AEC bagi negara-negara anggotanya termasuk Indonesia. Pengusaha Indonesia dapat menawarkan barang produksinya tanpa harus ada syarat yang rumit. Para investor juga akan lebih tertarik unutk menanamkan investasi di Indonesia. Sosialisasi yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam konteks persiapan AEC hendaknya tidak semata mengenai cara-cara menembus pasar Asean, tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengusaha kita bisa bertahan di pasar lokal di tengah besarnya arus barang dari Asean. Pola-pola seperti MEE, misalnya penyatuan mata uang, harus dihindarkan dalam AEC.

Tidak perlu ada mata uang Asean Dolar, atau bursa tunggal Asean Stock Market (Asean Stock Exchange). Tidak perlu juga dibentuk Asian Interbank Spot Dollar Rate (Aisdor). Arahkan konsep AEC sebagai sebuah komunitas ekonomi yang kuat saat menghadapi Jepang, Korea dan India, misalnya. (rodiah)

Jumat, 04 Oktober 2013

Enaknya apa?

MEMBERI atau MENGHUTANGI ?????

Malam ini gw mau nulis tentangg... emmm sesuatu yang sempat lama bersarang di otak gw. Bahkan mempengaruhi sendi kehidupan gw dan menjelma menjadi kepribadian. Sampai pada suatu titik gw menganggap semua ini ngga adil. Okay, kini gw temukan jawaban.
Dulu, gw pepatah itu sebenernya siapa) “kalo lo mau dihargain orang lain, lo juga harus menghormati orang lain”. gw pegang tu mantra, kapanpun dan di belahan bumi manapun gw berada. Gw selalu berpikir kalau gw pengen orang lain care sama gw, maka gw juga harus care sama mereka. Kalao gw pengen orang lain ramah sama gw, berarti gw juga harus ramah sama mereka.
SEOLAH SEMUANYA AKAN OTOMATIS BERBANDING LURUS. Tapi itu bullshit. Bohong!!
Bosen gw baik sama orang. Gw udah pasang tampang ramah, eh doi ngeselin. Ngga ngehargain gw sama sekali. Rasanya tu “najis banget” buat memulai kebaikan kalo tau balasannya kaya gitu. Gw udah coba ga itungan sama orang, gw coba sebisa mungkin mbantu mereka kalo lagi susah. Tetep ada aja orang-orang ngeselin yang ngga tau diri. Haruskah gw menjelma jadi orang yang sama sama ngeselin biar semua adil?
Hidup bersama orang banyak tentu akan banyak pula karakter yang bakal kita jumpai. Dari beberapa orang ngeselin ngeselin itu, ada juga segelintir orang-orang baik. Baik banget malahan. Gw aja sampai heran, kok bisa ada orang sebaik itu, sedangkan di belahan bumi lain orang orang mulai bertransformasi menjadi sangat jahat.
Alhasil, terbentuklah pribadi gw yang memperlakukan orang lain berdasarkan apa yang mereka dulu lakukan. Lo jual gw beli. Lo baik, gw baik. Tapi kalo lo ngajak main jahat gw jga siap. Cuman efeknya gw jadi org yg ngga mau membuka diri. Harus dipancing dulu. Dan yang jelas ketika gw bertemu orang jahat, jiwa gw dipenuhi sama rasa benci. Asli, ga enak banget.
Setelah lama berpetualang, ombak kehidupan menghanyutkan gw mendarat menuju pesisir cinta. Syukur deh, hati gw hidup kembali. Gw mulai mengenal dan bergaul dengan orang-orang yang berhati emas. Dari situ gw jadi mikir tentang “KETULUSAN” sama “KEBAIKAN”.

Bahwa kebaikan harus ditunaikan dengan ketulusan. Berbuat baik itu, bukan karena ingin dibalas dengan kebaikan. Berbuat baik itu “diberikan”, bukan “dihutangkan”. Iya kan? :)
Bagaimanapun mereka, kita harus selalu menebarkan kebaikan dengan sesama. Gw juga lagi berusaha nih, makanya melalui tulisan ini gw ngajak temen temen :)
Intinya, ketika kita memberi energi positif pada orang lain, berikan itu sebagai hadiah. Cukup yakin Tuhan yang membalasnya.
Kalo kita senyum sama orang, tapi doi ga bales senyum, jangan marah. Tidak masalah. Kita kan Cuma memberi senyuman, bukan menghutangi senyuman :) :) :)
(Riska DA).

Bersyukur

Kamu ganteng, kamu cantik, aku bahagia bisa bersama kalian :)

Aku yakin BANGET, Tuhan memberikan kebahagiaan pada setiap orang dalam porsi yg sama walaupun wujudnya berbeda-beda. ada yg bahagia karena memiliki orang tua yang penyayang, ada yang bahagia karena memiliki pendamping hidup yang nyaris sempurna, dan sebagainya. tinggal bagaimana cara kita mampu membuka celah kebahagiaan tersebut. mampukah kita melihat sesuatu barang sesepele apapun menjadi kebahagiaan. syukuri apa yang kita miliki. niscaya hidupmu akan bahagia.
orang yang merasa susah, itu karena dia lupa bersyukur. lupa atau tidak mau bersyukur itu sama dengan lupa atau TIDAK MAU membuka jalan untuk bahagia.
aku, Riska Dwi Astuti, merasa HIDUPKU SANGAT BAHAGIA. aku tidak secantik luna maya, aku tidak seseksi syahrini, akupun tidak sepandai habibie. Hidupku biasa saja, tidak berlimpah harta tidak pula dikerubungi dan di puja-puja kaum adam. aku makan nasi sayur lauk. tidak minum susu dan makan keju setiap hari. aku tidak punya piala tanda prestasi tidak pula sertifikat penghargaan atas bakat. TAPI aku sangat bahagia :) AKU PUNYA CARAKU UNTUK BAHAGIA. bukan harta bukan pujian orang lain bukan pula keindahan fisik semata. aku sangat bahagia :)
jangan pernah menutupi jalan untuk bahagia. BERSYUKURLAH J
terkadang kita perlu waktu kusus untuk menyadari betapa besar anugerah yang tuhan berikan kepada kita. Kadang aku juga perlu menutup mata sejenak untuk bisa lebih mendengarkan orang lain.
bagiku semua laki-laki itu ganteng dan setiap wanita itu cantik.
Menurutku, setiap wanita itu memiliki cantiknya masing-masing dan setiap laki-laki itu mempunyai ganteng mereka masing-masing.

Diam diam aku seneng ngeliatin wajah orang-orang di sekitarku. Hehee. Kali ini aku serius, setiap orang memiliki KETAMPANAN DAN KECANTIKAN MASING-MASING. Syaratnya, lihatlah hati mereka dengan hati kita J aku jamin, kalo udah kenal hatinya, kecantikan ataupun ketampanan fisik mereka akan terpancar dengan sendirinya J J J

Kamis, 12 September 2013

ESSENS : Penurunan Nilai Tukar Rupiah


Pakar ekonomi memperkirakan bahwa penurunan nilai rupiah bisa mencapai Rp 13.000 per dollar. Dan akan jadi Rp 10.000 pada kuartal kedua di tahun depan (2014) tepatnya jika pasar menyukai tim ekonomi setelah pemerintahan yang baru, setelah pemilihan umum 9 April tahun depan. Selain itu, kenaikan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) juga akan menguatkan rupiah., sehingga memperkecil deficit transaksi berjalan dengan ditekannya inflasi.

Nilai rupiah yang lesu terhadap dolar Amerika menimbulkan banyak dampak bagi perekonomian masyarakat. Banyak ekonom yang mengatakan bahwa lemahnya nilai tukar rupiah kali ini adalah yang terparah dalam empat tahun terakhir.

Banyak pihak yang dirugikan akan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Diantaranya adalah :
1.      Yang pertama adalah importir. Importir dirugikan karena importir sangat bergantung dengan barang-barang dari luar negeri. Importir akan membayar dengan mata uang yang telah disepakati, yang tentunya adalah dollar AS. Jika nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar berarti importir harus mengeluarkan uang lebih untuk membayar barang yang mereka impor dari luar negeri.
2.      Selanjutnya adalah pemilik hutang luar negeri. Jika seseorang, perusahaan, lembaga atau instansi yang memiliki hutang luar negeri pasti akan kesulitan dalam mengembalikan hutang luar negerinya. Karena nilai rupiah yang semakin lemah akan menambah beban atau hutang mereka walaupun nilai hutang mereka dalam bentuk dollar itu tetap, namun untuk membayarnya harus menukarkan rupiah yang sedang lemah dengan dollar, maka itu akan menambah beban mereka.
Tetapi didalam gejolak ekonomi yang sedang terjadi karena penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Ada beberapa pihak yang diuntungkan juga loh. Diantaranya :
1.      Yang pertama adalah pemegang uang dollar AS tentunya. Karena jika kita memiliki dollar AS yang banyak, dan ditukarkan dengan rupiah pada saat nilai rupiah turun, kita akan mendapat lebih banyak keuntungan dengan menukarnya ke rupiah.
2.      Selanjutnya dalah eksportir. Karena eksportir memproduksi barang di dalam negeri dengan biaya rupiah, saat dijual ke luar negeri, eksportir akan mendapatkan kontraprestasi berupa dollar yang nilainya lebih tinggi daripada saat mereka memproduksi.
3.      Terakhir adalah sektor pariwisata. Turunnya nilai rupiah menyebabkan pemegang dollar relatif lebih kaya di Indonesia. Sehingga akan banyak turis mancanegara yang memiliki dollar berwisata di Indonesia yang biayanya lebih murah karena dollar yang dihargai sangat tinggi di Indonesia.
Bila tidak diatasi, dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar akan menyebabkan krisis ekonomi. Masyarakat harus ikut andil dalam usaha memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dollar dengan cara mengkonsumsi barang dalam negeri, bukan dengan memperkaya diri sendiri dengan menukarkan dollar yang dimiliki, yang justru akan memperparah keadaan.
Pemerintah juga harus senantiasa berusaha menekan impor agar pengeluaran negara menjadi berkurang serta  memandirikan perekonomian negara. (tea).

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ospek, tapi bukan di Universitas itu..

Hmm.. sebentar lagi akan ada Ospek yaa? Ospek merupakan masa pengenalan seputar kuliah dan kampus. Ospek terdiri dari serangkaian kegiatan selama lima hari. Dua hari pertama merupakan ospek universitas, dua hari ospek fakultas serta satu hari ospek jurusan. Semacam parade pengenalan dari universitas ke jurusan masing-masing.
Mahasiswa baru (Maba) diperintahkan untuk membawa berbagai macam penugasan pada waktu ospek. Banyak yang mengeluhkan terlalu banyaknya tugas yang diberikan. Penugasan yang diberikan ketika Technical Meeting (TM) merupakan penugasan yang membutuhkan waktu lama. Sedangkan penugasan yang tidak begitu membutuhkan waktu lama diberikan pada hari-H.
Ospek itu menyenangkan. Di sana kita bisa belajar menyelami arti kehidupan kampus. Ketika Maba diberi hukuman oleh Pemandu Kedisipinan (PK) akbibat kelalaiannya, itu menunjukkan bahwa kita memerlukan kedisiplinan dalam menjalankan kuliah. Di dalam dunia kuliah tidak ada PK seperti dalam OSPEK, karena kita sendirilah yang membentuk kedisiplinan itu. Terkadang dosen banyak memberikan tugas terhadap mahasiswa, namun kelalaian mengumpulkan tugas dapat mengurangi nilai mahasiswa. Begitu juga dengan kedisiplinan masuk kelas. Dalam memberikan nilai akhir, dosen juga mempertimbangkan kedisiplinan siswa yang termasuk dalam penilaian afektif. Disiplin atau tidak, itu terserah mahasiswa.
Dalam rangkaian kegiatan Ospek, ada juga sesi mendengarkan dan memperhatikan seseorang yang sedang berbicara di depan. Jika mengobrol sedikit saja, pemandu akan memperingatkan mabanya agar diam. Beruntunglah, karena hal ini untuk kebaikan kalian agar informasi yang masuk dapat diserap dengan baik. Dalam dunia perkuliahan, tidak ada pemandu yang memperingatkan kalian untuk mengobrol di kelas. Tidak ada yang melarang kalian dalam mengobrol, namun jangan menyesal ketika Ujian Akhir. Sebagian besar yang keluar di ujian adalah materi yang diajarkan di kelas.
Ospek memang melelahkan, tapi itu adalah kenangan. Semakin kita mengeluh, semakin alam menarik energy negatif dari apa yang kita keluarkan. Terlebih, tubuh manusia terdiri dari sebagian besar air. Kristal dalam air akan bereaksi terhadap apa yang dipersepsikan terhadapnya. Air akan membentuk Kristal yang baik ketika kita memberikan kata-kata yang baik.
Jawaban dari semua kelelahan ini adalah rasa syukur. Alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan untuk belajar. Terdengan klasik memang, tapi inilah kenyataannya. Sadarlah! Masih banyak anak pelosok negeri yang belum bisa menikmati bangku kuliah seperti kita.
Iya, mungkin saja hatimu sedang berkecamuk mengapa kau diterima di universitas ini. Kamu kurang bisa ikhlas dengan takdir yang menimpamu. Hey kawan, ingatlah. Ada tangan tak tampak yang secara tidak langsung mencampuri takdirmu. Jika dalam pemikiran ekonomi klasik, tangan tak tampak itu berupa mekanisme harga pasar maka tangan tak tampak di sini adalah kehendak Tuhan. Dia-lah sutradara terbesar dalam semesta. Tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini, melainkan sudah dituliskan Nya.
Hmmm mungkin saja kau mau protes dengan penggalan surat Ar-rad yang mengatakan “.. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali ia sendiri yang mengubahnya..”. Iya, itu benar! Tapi coba perhatikan baik-baik. Pasti ada sesuatu yang ndilalah agar menuntunmu di sini. Mungkin inilah yang terbaik.
Tuhan merasa malu jika seorang hamba berdo’a tetapi Ia belum mengabulkannya. Maka, ada tiga kemungkinan balasan atas do’a kita. Pertama, Tuhan akan mengabulkannya. Kedua, Tuhan akan mengalihkan terhadap yang kau butuhkan. Ketiga, Ia mengampuni dosamu. Saya sangat yakin bahwa terkadang Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan inginkan. Bersyukurlah. Ikhlaslah.

Orang yang bahagia lebih cepat suksesnya daripada orang yang tidak bahagia. Menurut saya, sukses itu ketika kita bahagia dan kaya. Percuma saja kita memiliki segalanya di dunia tetapi tidak berbahagia. Ohh.. Tuhan. Jika memang ini takdir kami, mudahkanlah kami dalam mencapai kesuksesan yang kami harapkan. Engkau Maha Besar, Maha Kaya dan Maha Tinggi. Maka, naikkanlah kualitas hidup hamba dalam ketidaknyamanan yang kami alami. Mungkin saja, kami belum pandai bersyukur. Aamiin (thi).

Ah, Ketupat..

Suara benderang beduk mulai terdengar sejak kemarin malam. Pagi ini, umat muslim di Indonesia merayakan hari raya idul fitri yang penuh berkah setelah menjalani puasa ramadhan sekama satu bulan penuh. Hari raya idul fitri identic dengan makanan ketupat. Tak jarang masyarakat juga menyebut lebaran ketupat.
Ketupat merupakan makanan yang berisi beras. Termpat ketupat berupa anyaman daun kelapa muda (janur) yang dibentuk menjadi segiempat. Lalu ketupat yang masih kosong diisi dengan beras sebanyak setengah dari wadah lalu dikukus. Penyajiannya bisa dikreasikan dengan aneka lauk dan pauk. Pada saat lebaran ketupat-ketupat ini diantarkan ke rumah lebaran serta kerabat. Ketupat menjadi lambang kebersamaan diantara sesama.
Ketupat yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga ketika membawa Islam masuk ke Indonesia ini juga mempunyai filosofi lain. Anyaman yang terdapat pada ketupat merepresentasikan banyaknya kesalahan manusia. Setelah dibelah dua, terlihatlah isi ketupat yang berwarna putih, menggambarkan kesucian dan kebersihan hati manusia setelah menahan nafsu selama puasa ramadhan. Warna putih ini juga sebagai symbol bahwa pada hari raya manusia telah kembali ke fitrahnya.
Sementara itu, ketupat yang memiliki bentuk sempurna juga merupakan symbol kemenangan umat muslim di hari nan fitri. Empat sisi ketupat melambangkan empat arah mata angin : timur, selatan, barat, utara. Yang kemanapun kita melaju, semuanya tertuju pada satu arah yaitu kepada Allah SWT.
Kembali ke fitri berarti tidak membiarkan satu noda kedengkian serta dendam pun menempel di hati manusia. Oleh karena itu, pada hari raya ini umat muslim saling bermaaf-maafan untuk membersihkan diri dari debu-debu penyakit hati.
Maaf, sebuah kata yang hanya terdiri dari empat huruf ini mempunyai dampak yang besar terhadap kehidupan seorang manusia. Meminta maaf dengan tulus serta memberi maaf dengan tulus dapat membuat hati semakin bahagia.
Taqoballalohu minna wa minkum, taqobbal ya kariim. Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Mudah-mudahan kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Aamiin..

Kami segenap keluarga HMPE mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Minal ‘aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin :)

Selasa, 16 Juli 2013

‘Simalakama’ Kebijakan Ujian Nasional

Evaluasi pengajaran sangat diperlukan dalam setiap kegiatan. Evaluasi pengajaran digunakan untuk menilai/menaksir pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Harjanto,2011:277). Secara garis besar dalam proses belajar mengajar, evaluasi mempunyai tiga fungsi pokok yaitu mengukur kemajuan dan perkembangan peserta didik, mengukur keberhasilan system pengajaran serta sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perbaikan.
Ujian Nasional (UN) dijadikan sebagai alat evaluasi pendidikan di Indonesia sesuai dengan Permendiknasbud RI Nomor 3 Tahun 2013  Bab I Pasal I Ayat 5. Kemudian dasar pijakan pelaksanaan Ujian Nasional tertera dalam PP 19/2005 Standar Nasional Pendidikan BAB X tentang standar Penilaian Pendidikan pasal 68. Pada pasal tersebut diputuskan bahwa hasil ujian nasional dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk ; pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari program dan atau satuan pendidikan dan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sudah berlangsung sejak tahun 1965 (dahulu Ujian Negara-EBTANAS-UNAS), namun yang menjadi permasalahan adalah berlakunya target wajib belajar pendidikan dalam pelaksanaan Ujian Nasional sejak tahun 2005. Perubahan sistem Ujian Nasional ini membuat mindset pendidik dan peserta didik mengejar satu kata pragmatis : lulus. Dampaknya, proses belajar mengajar cenderung mengejar pencapaian sisi kognitif siswa dengan mengabaikan kategori tujuan lain dalam proses pendidikan yaitu ranah psikomotor dan ranah afektif.
Perdebatan mengenai keefektifan pelaksanaan Ujian Nasional belum menemukan titik terang dari tahun ke tahun. Suara pro datang dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan Ujian Nasional, ditambah dengan pihak-pihak tertentu yang sepaham dengan pemerintah. Sedangkan suara kontra  datang dari praktisi dan pakar pendidikan yang secara langsung terlibat dalam proses pendidikan. Dengan kata lain mereka adalah pihak yang mengelola dan mengalami secara langsung proses pendidikan serta pihak yang memahami permasalahan pendidikan.
Berikut merupakan argumen dari pihak pro mengenai pelaksanaan ujian nasional. Mereka beranggapan bahwa Ujian Nasional mengukur kualitas pendidikan secara nasional serta standarisasi pendidikan, pertama. Kedua, Ujian Nasional dapat memacu peserta didik, perangkat pendidikan serta pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ketiga, Ujian Nasional dijadikan kontrol pemerintah sejauh mana suatu sekolah itu telah menerapkan dengan baik program pendidikan nasional.
Sementara itu argumen dari pihak kontra adalah sebagai berikut. Pertama, Ujian Nasional tidak sejalan dengan ruh pendidikan. Ujian Nasional hanya mengajarkan peserta didik dan pendidik untuk berpikir pragmatis dan hanya mengedepankan ranah kognitif siswa dalam proses pendidikan. Padahal, menurut Bloom dkk (1952) dalam Harjanto (2011:59) ada tiga kategori tujuan dalam proses pendidikan yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Kedua, pelaksanaan Ujian Nasional bersifat kontraproduktif dengan pembentukan karakter siswa. Mata pelajaran pendidikan karakter seperti pendidikan agama, pendidikan kewarganegan dsb yang tidak di-UN-kan kurang menjadi fokus perhatian dalam proses pendidikan di sekolah. Ketiga, Ujian Nasional mengabaikan pendidik sebagai evaluator pendidikan karena pemerintah berperan mutlak dalam penentuan kelulusan. Keempat, standar nilai Ujian Nasional yang sama di seluruh Indonesia sementara terdapat perbedaan sarana prasarana, guru serta input yang signifikan.
Dari fenomena Ujian Nasional di atas, terlihat dengan sangat jelas wajah pendidikan kita. Masyarakat dapat melihat momentum pelaksanaan Ujian Nasional yang seringkali dijaga oleh pengawalan ketat petugas. Ini merujuk pada satu persepsi bahwa produk yang dihasilkan oleh pendidikan belum menciptakan manusia yang seutuhnya, manusia pun ternyata harus dijaga agar tidak berbuat curang dalam UN[1]. Proses pendidikan kita lah yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Tujuan pendidikan yang membuat orang menjadi baik dan orang baik berperilaku mulia seperti yang dikatakan Plato, belum dicapai oleh siswa. Kecurangan dan ketidaksiapan dalam mengikuti Ujian Nasional merupakan cerminan. Sehingga dapat diasumsikan bahwa potret pendidikan nasional bangsa kita telah gagal akibat ketidakpercayaan pemertintah atas proses pendidikan.
Penulis mendukung upaya pemerintah untuk memetakan kualitas pendidikan melalui Ujian Nasional. Tetapi penulis rasa penentuan Ujian Nasional sebagai standar kelulusan perlu dikaji ulang. Pemetaan kualitas pendidikan dapat saja dilakukan tanpa mereduksi dan mengintervensi kelulusan siswa (thi).