Sabtu, 10 Agustus 2013

Ospek, tapi bukan di Universitas itu..

Hmm.. sebentar lagi akan ada Ospek yaa? Ospek merupakan masa pengenalan seputar kuliah dan kampus. Ospek terdiri dari serangkaian kegiatan selama lima hari. Dua hari pertama merupakan ospek universitas, dua hari ospek fakultas serta satu hari ospek jurusan. Semacam parade pengenalan dari universitas ke jurusan masing-masing.
Mahasiswa baru (Maba) diperintahkan untuk membawa berbagai macam penugasan pada waktu ospek. Banyak yang mengeluhkan terlalu banyaknya tugas yang diberikan. Penugasan yang diberikan ketika Technical Meeting (TM) merupakan penugasan yang membutuhkan waktu lama. Sedangkan penugasan yang tidak begitu membutuhkan waktu lama diberikan pada hari-H.
Ospek itu menyenangkan. Di sana kita bisa belajar menyelami arti kehidupan kampus. Ketika Maba diberi hukuman oleh Pemandu Kedisipinan (PK) akbibat kelalaiannya, itu menunjukkan bahwa kita memerlukan kedisiplinan dalam menjalankan kuliah. Di dalam dunia kuliah tidak ada PK seperti dalam OSPEK, karena kita sendirilah yang membentuk kedisiplinan itu. Terkadang dosen banyak memberikan tugas terhadap mahasiswa, namun kelalaian mengumpulkan tugas dapat mengurangi nilai mahasiswa. Begitu juga dengan kedisiplinan masuk kelas. Dalam memberikan nilai akhir, dosen juga mempertimbangkan kedisiplinan siswa yang termasuk dalam penilaian afektif. Disiplin atau tidak, itu terserah mahasiswa.
Dalam rangkaian kegiatan Ospek, ada juga sesi mendengarkan dan memperhatikan seseorang yang sedang berbicara di depan. Jika mengobrol sedikit saja, pemandu akan memperingatkan mabanya agar diam. Beruntunglah, karena hal ini untuk kebaikan kalian agar informasi yang masuk dapat diserap dengan baik. Dalam dunia perkuliahan, tidak ada pemandu yang memperingatkan kalian untuk mengobrol di kelas. Tidak ada yang melarang kalian dalam mengobrol, namun jangan menyesal ketika Ujian Akhir. Sebagian besar yang keluar di ujian adalah materi yang diajarkan di kelas.
Ospek memang melelahkan, tapi itu adalah kenangan. Semakin kita mengeluh, semakin alam menarik energy negatif dari apa yang kita keluarkan. Terlebih, tubuh manusia terdiri dari sebagian besar air. Kristal dalam air akan bereaksi terhadap apa yang dipersepsikan terhadapnya. Air akan membentuk Kristal yang baik ketika kita memberikan kata-kata yang baik.
Jawaban dari semua kelelahan ini adalah rasa syukur. Alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan untuk belajar. Terdengan klasik memang, tapi inilah kenyataannya. Sadarlah! Masih banyak anak pelosok negeri yang belum bisa menikmati bangku kuliah seperti kita.
Iya, mungkin saja hatimu sedang berkecamuk mengapa kau diterima di universitas ini. Kamu kurang bisa ikhlas dengan takdir yang menimpamu. Hey kawan, ingatlah. Ada tangan tak tampak yang secara tidak langsung mencampuri takdirmu. Jika dalam pemikiran ekonomi klasik, tangan tak tampak itu berupa mekanisme harga pasar maka tangan tak tampak di sini adalah kehendak Tuhan. Dia-lah sutradara terbesar dalam semesta. Tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini, melainkan sudah dituliskan Nya.
Hmmm mungkin saja kau mau protes dengan penggalan surat Ar-rad yang mengatakan “.. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali ia sendiri yang mengubahnya..”. Iya, itu benar! Tapi coba perhatikan baik-baik. Pasti ada sesuatu yang ndilalah agar menuntunmu di sini. Mungkin inilah yang terbaik.
Tuhan merasa malu jika seorang hamba berdo’a tetapi Ia belum mengabulkannya. Maka, ada tiga kemungkinan balasan atas do’a kita. Pertama, Tuhan akan mengabulkannya. Kedua, Tuhan akan mengalihkan terhadap yang kau butuhkan. Ketiga, Ia mengampuni dosamu. Saya sangat yakin bahwa terkadang Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan inginkan. Bersyukurlah. Ikhlaslah.

Orang yang bahagia lebih cepat suksesnya daripada orang yang tidak bahagia. Menurut saya, sukses itu ketika kita bahagia dan kaya. Percuma saja kita memiliki segalanya di dunia tetapi tidak berbahagia. Ohh.. Tuhan. Jika memang ini takdir kami, mudahkanlah kami dalam mencapai kesuksesan yang kami harapkan. Engkau Maha Besar, Maha Kaya dan Maha Tinggi. Maka, naikkanlah kualitas hidup hamba dalam ketidaknyamanan yang kami alami. Mungkin saja, kami belum pandai bersyukur. Aamiin (thi).

Ah, Ketupat..

Suara benderang beduk mulai terdengar sejak kemarin malam. Pagi ini, umat muslim di Indonesia merayakan hari raya idul fitri yang penuh berkah setelah menjalani puasa ramadhan sekama satu bulan penuh. Hari raya idul fitri identic dengan makanan ketupat. Tak jarang masyarakat juga menyebut lebaran ketupat.
Ketupat merupakan makanan yang berisi beras. Termpat ketupat berupa anyaman daun kelapa muda (janur) yang dibentuk menjadi segiempat. Lalu ketupat yang masih kosong diisi dengan beras sebanyak setengah dari wadah lalu dikukus. Penyajiannya bisa dikreasikan dengan aneka lauk dan pauk. Pada saat lebaran ketupat-ketupat ini diantarkan ke rumah lebaran serta kerabat. Ketupat menjadi lambang kebersamaan diantara sesama.
Ketupat yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga ketika membawa Islam masuk ke Indonesia ini juga mempunyai filosofi lain. Anyaman yang terdapat pada ketupat merepresentasikan banyaknya kesalahan manusia. Setelah dibelah dua, terlihatlah isi ketupat yang berwarna putih, menggambarkan kesucian dan kebersihan hati manusia setelah menahan nafsu selama puasa ramadhan. Warna putih ini juga sebagai symbol bahwa pada hari raya manusia telah kembali ke fitrahnya.
Sementara itu, ketupat yang memiliki bentuk sempurna juga merupakan symbol kemenangan umat muslim di hari nan fitri. Empat sisi ketupat melambangkan empat arah mata angin : timur, selatan, barat, utara. Yang kemanapun kita melaju, semuanya tertuju pada satu arah yaitu kepada Allah SWT.
Kembali ke fitri berarti tidak membiarkan satu noda kedengkian serta dendam pun menempel di hati manusia. Oleh karena itu, pada hari raya ini umat muslim saling bermaaf-maafan untuk membersihkan diri dari debu-debu penyakit hati.
Maaf, sebuah kata yang hanya terdiri dari empat huruf ini mempunyai dampak yang besar terhadap kehidupan seorang manusia. Meminta maaf dengan tulus serta memberi maaf dengan tulus dapat membuat hati semakin bahagia.
Taqoballalohu minna wa minkum, taqobbal ya kariim. Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Mudah-mudahan kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Aamiin..

Kami segenap keluarga HMPE mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Minal ‘aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin :)

Selasa, 16 Juli 2013

‘Simalakama’ Kebijakan Ujian Nasional

Evaluasi pengajaran sangat diperlukan dalam setiap kegiatan. Evaluasi pengajaran digunakan untuk menilai/menaksir pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Harjanto,2011:277). Secara garis besar dalam proses belajar mengajar, evaluasi mempunyai tiga fungsi pokok yaitu mengukur kemajuan dan perkembangan peserta didik, mengukur keberhasilan system pengajaran serta sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perbaikan.
Ujian Nasional (UN) dijadikan sebagai alat evaluasi pendidikan di Indonesia sesuai dengan Permendiknasbud RI Nomor 3 Tahun 2013  Bab I Pasal I Ayat 5. Kemudian dasar pijakan pelaksanaan Ujian Nasional tertera dalam PP 19/2005 Standar Nasional Pendidikan BAB X tentang standar Penilaian Pendidikan pasal 68. Pada pasal tersebut diputuskan bahwa hasil ujian nasional dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk ; pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari program dan atau satuan pendidikan dan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sudah berlangsung sejak tahun 1965 (dahulu Ujian Negara-EBTANAS-UNAS), namun yang menjadi permasalahan adalah berlakunya target wajib belajar pendidikan dalam pelaksanaan Ujian Nasional sejak tahun 2005. Perubahan sistem Ujian Nasional ini membuat mindset pendidik dan peserta didik mengejar satu kata pragmatis : lulus. Dampaknya, proses belajar mengajar cenderung mengejar pencapaian sisi kognitif siswa dengan mengabaikan kategori tujuan lain dalam proses pendidikan yaitu ranah psikomotor dan ranah afektif.
Perdebatan mengenai keefektifan pelaksanaan Ujian Nasional belum menemukan titik terang dari tahun ke tahun. Suara pro datang dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan Ujian Nasional, ditambah dengan pihak-pihak tertentu yang sepaham dengan pemerintah. Sedangkan suara kontra  datang dari praktisi dan pakar pendidikan yang secara langsung terlibat dalam proses pendidikan. Dengan kata lain mereka adalah pihak yang mengelola dan mengalami secara langsung proses pendidikan serta pihak yang memahami permasalahan pendidikan.
Berikut merupakan argumen dari pihak pro mengenai pelaksanaan ujian nasional. Mereka beranggapan bahwa Ujian Nasional mengukur kualitas pendidikan secara nasional serta standarisasi pendidikan, pertama. Kedua, Ujian Nasional dapat memacu peserta didik, perangkat pendidikan serta pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ketiga, Ujian Nasional dijadikan kontrol pemerintah sejauh mana suatu sekolah itu telah menerapkan dengan baik program pendidikan nasional.
Sementara itu argumen dari pihak kontra adalah sebagai berikut. Pertama, Ujian Nasional tidak sejalan dengan ruh pendidikan. Ujian Nasional hanya mengajarkan peserta didik dan pendidik untuk berpikir pragmatis dan hanya mengedepankan ranah kognitif siswa dalam proses pendidikan. Padahal, menurut Bloom dkk (1952) dalam Harjanto (2011:59) ada tiga kategori tujuan dalam proses pendidikan yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Kedua, pelaksanaan Ujian Nasional bersifat kontraproduktif dengan pembentukan karakter siswa. Mata pelajaran pendidikan karakter seperti pendidikan agama, pendidikan kewarganegan dsb yang tidak di-UN-kan kurang menjadi fokus perhatian dalam proses pendidikan di sekolah. Ketiga, Ujian Nasional mengabaikan pendidik sebagai evaluator pendidikan karena pemerintah berperan mutlak dalam penentuan kelulusan. Keempat, standar nilai Ujian Nasional yang sama di seluruh Indonesia sementara terdapat perbedaan sarana prasarana, guru serta input yang signifikan.
Dari fenomena Ujian Nasional di atas, terlihat dengan sangat jelas wajah pendidikan kita. Masyarakat dapat melihat momentum pelaksanaan Ujian Nasional yang seringkali dijaga oleh pengawalan ketat petugas. Ini merujuk pada satu persepsi bahwa produk yang dihasilkan oleh pendidikan belum menciptakan manusia yang seutuhnya, manusia pun ternyata harus dijaga agar tidak berbuat curang dalam UN[1]. Proses pendidikan kita lah yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Tujuan pendidikan yang membuat orang menjadi baik dan orang baik berperilaku mulia seperti yang dikatakan Plato, belum dicapai oleh siswa. Kecurangan dan ketidaksiapan dalam mengikuti Ujian Nasional merupakan cerminan. Sehingga dapat diasumsikan bahwa potret pendidikan nasional bangsa kita telah gagal akibat ketidakpercayaan pemertintah atas proses pendidikan.
Penulis mendukung upaya pemerintah untuk memetakan kualitas pendidikan melalui Ujian Nasional. Tetapi penulis rasa penentuan Ujian Nasional sebagai standar kelulusan perlu dikaji ulang. Pemetaan kualitas pendidikan dapat saja dilakukan tanpa mereduksi dan mengintervensi kelulusan siswa (thi).

Sabtu, 04 Mei 2013

Inilah Hidup ala Mikro dan Makro



Jika kita memandang hidup secara mikro, maka kita hanya akan menemukan diri kita sendiri. Hanya lingkar diri kita saja yang kita lihat. Efeknya kita akan menganggap bahwa kitalah yang paling hebat, paling keren, paling oke, paling pintar dan paling . . . paling yang lain. Intinya jika kita memandang hidup ini secara sempit kita akan terus membanggakan diri kita sendiri. Nyaman dengan semua yang ada dan perolehan yang telah di dapat. Bahayanya sudut pandang ini dapat menjerumuskan kita pada kesombongan. Padahal Allah pun berfirman dalam QS : Luqman ayat 18 yang berbunyi, “Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Sedangkan jika kita memandang hidup ini dari sudut pandang makro, kita akan memandang hidup ini secara agregat atau keseluruhan tidak secara parsial. Dengan begitu kita akan melihat lingkungan hidup yang lebih luas tidak hanya lingkar diri kita saja yang kita lihat. Tetapi akan ada aku, dia, kita, kami dan mereka. Kita akan menyadari bahwa manusia tidak akan mampu hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya. Kita pun akan melihat bahwa diri kita belum ada apa-apanya, masih banyak orang-orang yang lebih hebat dari kita dan kita akan sadar bahwa kita harus dan senantiasa memperbaiki diri. Belajar, belajar dan terus belajar meningkatkan kualitas diri!

Minggu, 28 April 2013

FSE : Sudah Sukseskah Pendidikan Indonesia ?


FSE #2

Forum Study Ekonomi (FSE) sesion 2 kembali diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi pada tanggal 25 April 2013. Pada kesempatan ini FSE memuatt tema “Sudah Sukseskah Pendidikan Indonesia ?” dengan dua pembicara yaitu Prof. Suyanto, Ph. D. Dan Riska Dwi Astuti.
Berbeda dengan forum lainnya di FSE diadakan diskusi dari dua perspektif yaitu dari perspektif mahasiswa dan pakar. Dari perspektif mahasiswa diwakili oleh Riska Dwi Astuti (mahasiswa Pendidikan Ekonomi 2011). Riska memaparkan berbagai hasil survei dari UNESCO dimana pendidikan Indonesia menempati urutan ke 69 dari 127 negara sedangkan negara tetangga seperti Malaysia berada di urutan 65 dan Brunei Darussalam di urutan 35. Hal tersebut sedikit banyak menggambarkan keadaan pendidikan Indonesia yang belum maju karena disebabkan oleh faktor angka melek huruf rendah, angka partisipasi sekolah rendah dan angka putus sekolah yang juga sama-sama rendah. Ironisnya pendidikan di Indonesia terendah masih di dominasi oleh Indonesia wilayah Tengah dan Timur. Hal ini menandakan bahwa pendidikan Indonesia selain belum sukses juga belum merata hanya terpusat di Jawa, di Luar pulau Jawa banyak daerah tertinggal dan tidak terjamah oleh pendidikan. Riska juga menambahkan sekarang ini banyak mahasiswa yang tidak serius bila mengikuti perkuliahan padahal mahasiswa sebagai agen perubahan seharusnya menjadi panutan dan harapan yang besar bagi Indonesia. Riska juga mengajak semua peserta yang hadir di FSE bahwa mahasiswa bukan sekedar berkata “nyalakan cahaya” namun harus dengan bukti konkret di dunia pendidikan karena peran mahasiswa sangat dibutuhkan dan diharapkan oleh masyarakat Indonesia dan demi menuju Indonesia yang lebih baik.
Sesi kedua dibersamai oleh Prof. Suyanto, Ph. D (guru besar FE UNY,  mantan rektor UNY dan mantan dirjen manajemen dikdasmen kemendiknas RI). Senada dengan perspektif mahasiswa, beliau juga mempertanyakan apakah pendidikan kita sudah hebat ? melalui data yang diambil dari survei PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2009 menunjukkan bahwa dari 6 level hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara negara lain banyak yang sampai level 4, 5, bahkan 6. Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi dari hasil ini hanya satu, yaitu: yang diajarkan di Indonesai berbeda dengan tuntutan zaman atau  penyesuaian kurikulum belum berjalan lancar.
Data kedua diambil dari TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) dan PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study). Hasil yang didapat dari kedua survei tersebut menunjukkan bahwa rata-rata siswa di Indonesia mempunyai tingkat curiositas atau keingintahuan rendah. Siwa tidak tahu apa tujuan yang diperoleh ketika mengambil mata pelajaran tertentu sehingga dalam proses belajar mengajar siswa tidak antusias. Sedangkan di negara maju tingkat curiositas siswa tinggi dan siswa menjadi sangat memahami pelajaran yang diberikan.
 Prof. Suyanto, Ph. D. Juga memaparkan satu-satunya cara yang efektif dalam membangun indeks pembangunan manusia adalah dengan pendidikan. Namun kendala yang dihadapi Indonesia adalah jumlah pelajar di Indonesia yang sangat banyak dan membutuhkan keseriusan dan dukungan dari semua pihak dari seluruh aspek masyarakat Indonesia (rodhiah).

Alfred Marshal


Elastisitas

Ilmu ekonomi biasanya dipandang sebagai ilmu teoritis dan sangat sulit bila diterapkan di dunia nyata. Namun apabila kita belajar lebih dalam lagi tentang ekonomi, ternyata ilmu yang satu ini sangat mudah bila diterapkan di kehidupan sehari-hari lohhh..
Misalnya saja konsep elastisitas. Biasanya elastisitas yang kita pelajari hanya unutk mengukur suatu barang dengan menghitungnya menggunakan rumus yang membuat kita bingung. Namun, sebenarnya mungkin nggak sih kalau konsep elastisitas diterapkan dalam kasus lain contohnya sebuah hubungan?
Pasti bisa !!!
Konsep elastisitas ini ditemukan oleh Alfred Marshal, beliau merupakan pendiri dari mazhab Cambridge dan sangat terkenal dengan kontribusinya pada bidang ilmu ekonomi diagram. Kalau kita sering lihat adanya kurva penawaran dan permintaan serta titik-titik keseimbagannya ya beliau itu yang pertama kali menggambarkannya.
Konsep elastisitasnya dapat kita jumpai disemua mata pelajaran ekonomi khususnya pengantar ilmu ekonomi dan ekonomi mikro.  Marshal menjelaskan bahwa semua hubungan ekonomi adalah hubungan sebab akibat. Gagasan elastisitas berusaha memastikan berapa banyak akibat yang dihasilkan oleh sebab tertentu. Ada beberapa jenis elastisitas antara lain :
1.       Elastis
Jika beberapa sebab kecil mengakibatkan akibat yang lebih besar berarti hubungan tersebut dikatakan elastis. Bila kita kaitkan dengan sebuah hubungan pacaran, apabila ada masalah kecil mengakibatkan pertengkaran hebat sampai jambak-jambakan, lempar-lemparan itu berarti hubungan pacaran tersebut bersifat elastis.
2.       Tidak elastis
Apabila sebab kecil menghasilkan akibat kecil hubungan tersebut bersifat tidak elastis. Jika masalah yang agak besar tetapi mengakibatkan pertengkaran kecil berarti hubungan pacaran bertipe tidak elastis.
3.       Elastis unitary
Dikatakan elastis unitary apabila sebab kecil menghasilkan akibat yang kecil juga. Sebuah hubungan dengan masalah kecil dan membuat pertengkaran kecil hubungannya bersifat elastis unitary.
4.       Elastis sempurna
Hubungan pacaran dapat dikatakan elsatis sempurna apabila masalah kecil atau besar yang berada pada satu titik saja tidak akan mempengaruhi pertengakaran/akibat apapaun. Tetapi apabila kadar masalah tersebut naik sedikit saja makan akan terjadi pertengakaran yang tidak terduga dan hubungan tersebut besar kemungkinannya untuk putus.
5.       Elastis tidak sempurna
Pertengkaran tetap berada pada satu titik meskipun dengan seberapa banyak masalah.  Namun jika tingkat pertengkaran naik sedikit hubungan tersebut juga besar kemungkinannya untuk putus.
Nah ellastisitas mana sih yang paling baik bagi sebuah hubungan pacaran ? tergantung pada sebabnya. Apabila sebab itu bersifat baik sebaiknya memilih jenis hubungan yang elastis. Jika  sebabnya buruk sebaiknya memilih jenis hubungan yang tidak elastis. Namun, jika ingin berda dalam zona aman jenis elastisitas unitary dapat menjadi pilihan yang tepat.
So,, hubunganmu cocok sama elastisitas yang mana ? (rodhiah).

Minggu, 21 April 2013

FSE : Mengurai Benang Kusut Century

FSE #1

Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Kamis (21/3), meggelar acara rutin tahunan Forum Studi Ekonomi( FSE). Acara tersebut menjadi program kerja rutin HIMA Pendidikan Ekonomi. Melalui kegiatan FSE ini mahasiswa dapat berdiskusi bersama dalam satu forum membahas isu-isu terhangat yang sedang terjadi di Indonesia. Pada FSE kali ini topik yang diangkat adalah ruetnya kasus Century yang hingga kini belum terselsaikan.
Hadir sebagai pembicara pertama mahasiswa Pendidikan Ekonomi Bagja Sumantri dan dosen Pendidikan Ekonomi UNY Supriyanto,M.M sebagai pembicara kedua. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya peserta yang hadir memadati Ruang Jamuan Fakultas Ekonomi UNY. Acara tersebut dihadiri oleh 80 peserta. Acara kali ini lebih menarik karena selain dihadiri oleh mahasiswa UNY khususnya Pendidikan Ekonomi, Mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia(UII) juga ikut hadir dalam forum tersebut.
Pada sesi pertama Bagja Sumantri memaparkan sejarah dan kronologis kasus Century dari prespektif mahasiswa. Sedangkan pada sesi kedua, Supriyanto,M.M mengulas kasus tersebut dari 3 parameter ekonomi, politik, dan hukum. Forum ini semakin menarik saat sesi diskusi berlangsung. Peserta semakin larut dalam diskusi yang dilakukan dengan pembicara. Usai acara tersebut peserta semakin terbuka wawasanya mengenai ekonomi politik di Indonesia khususnya Kasus Century. Pada akhir acara diskusi  Supriyanto,M.M mengatakan bahwa mahasiswa semestinya lebih aktif dan tidak terlelap dalam sistem yang ada sekarang ini.
Melihat suksesnya FSE 1 tahun 2013 ini, banyak pihak baik itu mahasiswa maupun pembicara mengharapkan Forum tersebut digelar kembali agar nantinya mahasiswa lebih aktif dan lebih tanggap terhadap masalah-masalah yang ada di sekitarnya (ar).